Tugas 1 Menanggapi Berita


Nama                     : Nazwa Salsabila
NPM                                   : 210104220077
Kelas                                   : B
Nama Surat Kabar Online  : Kompasiana.com
Judul Berita                        : “Mahasiswi KKN Undip Berikan Penyuluhan 
              Kesehatan Mental kepada Warga Dusun 
    Tawangrejo”
Waktu Terbit                         :  Kamis, 11 Agustus 2022 (14:55)



  • Tanggapan terhadap isi berita : 


Di era sekarang ini, banyak masyarakat terutama para remaja dari Generasi Z (yang lahir pada tahun 1996-2009) mulai peduli terhadap kesehatan mental, atau dengan kata lain “mental health”. Berita yang saya baca tersebut, merupakan salah satu implementasi kepedulian kesehatan mental yang dilakukan oleh sosok mahasiswi dari Universitas Diponegoro yang melakukan penyuluhan kesehatan mental kepada warga dusun Tawangrejo. 


Dalam rangka Program Monodisiplin Fakultas Psikologi, kegiatan ini diselenggarakan oleh Vika Fitri Andini selaku mahasiswa KKN Tim II UNDIP 2021/2022 di Dusun Tawangrejo RT 10, Desa Simo, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada Minggu, 24 Juli 2022 pukul 19.30-21.00 WIB yang bertemakan "Peduli Kesehatan Mental". Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dasar dan membangun kepedulian mengenai kesehatan mental kepada warga awam.


Selain itu, mereka bertujuan untuk menghimbau para warga untuk tidak menyepelekan masalah kesehatan mental ini, dan memberikan pencegahan serta solusi yang dapat dilakukan dengan cara berkonsultasi langsung pada profesional seperti psikolog atau psikiater agar segera di fasilitasi. 


Para mahasiswi melibatkan ibu-ibu sebagai audiens sosialisasi program tersebut. Dan hebatnya, para ibu antusias mendengarkan serta memberikan tanggapan kepada Vika, selaku pembicara program sosialisasi ini. Alasan mereka mengajak ibu-ibu untuk mengikuti program ini sangatlah tepat. Sebab, informasi akan lebih mudah beredar dari mulut ke mulut di setiap penjuru desa. Sehingga, cara ini dapat dikatakan efektif dalam membuat masyarakat sadar akan pentingnya kesehatan mental. 


Kesehatan mental menurut saya pribadi adalah suatu hal yang berperan penting dalam kehidupan sosok manusia. Jiwa, ibarat separuh nyawa manusia dalam menjalankan hidupnya, tentu saja harus berfungsi dengan “baik” sebagaimana mestinya. Apabila terdapat kerusakan di sana, maka dirasa sosok manusia tersebut akan kehilangan arah dalam menjalankan kehidupannya.


Ibarat kesehatan fisik, kesehatan mental juga sama pentingnya. Mungkin benar, kesehatan mental tak tertampak wujud kesakitannya, tidak terlihat jelas seperti penyakit fisik yang diderita. Namun nyatanya, jauh di dalam jiwa penderitanya, terlihat jelas luka batin yang mungkin terlalu mengerikan untuk dilihat, dan terlalu menyakitkan juga untuk dirasakan. 


Namun mirisnya, masih banyak manusia diluar sana yang menganggap bahwa hal ini sepele, dan parahnya dianggap tabu. Mereka pikir, seseorang dengan mental yang tidak sehat merupakan sosok yang perlu dijauhi, sebab mereka kerap kali di cap sebagai sosok “orang gila” atau “orang tidak waras” atau bahkan “kurang ibadah”. Padahal, sebagai sosok manusia yang dapat memanusiakan manusia, seharusnya mereka sadar, bahwa gangguan tersebut ada untuk diperbaiki, bukan untuk dicaci maki.


Dengan penjelasan tersebut, maka diyakini bahwa kesehatan mental merupakan hal penting yang harus disadari oleh seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya remaja, bahkan sosok anak kecil, anak usia dini, orang dewasa, orang tua, sampai lansia pun sangat membutuhkan kesehatan mental ini. Dan sebagai manusia yang peduli akan diri dan lingkungan sekitarnya, sudah sepatutnya kita melek terhadap kasus-kasus seperti ini.


Untuk masyarakat yang sudah mulai sadar terhadap permasalahan kesehatan mental ini, kerap kali bingung dengan ciri-ciri apabila mengidap masalah mental, atau mungkin cara menjaga kesehatan mental. Dari berita yang saya baca tadi, sudah memberikan beberapa jawaban yang relevan dengan dua permasalahan ini. Namun kembali lagi, semua butuh bantuan profesional, tidak boleh asal self diagnosis. Langkah sosialisasi yang dilakukan oleh mahasiswi Fakultas Psikologi KKN Undip ini sudah sangat tepat. Selain membuat masyarakat peduli terhadap isu tersebut, mereka juga memberikan solusi agar tidak gegabah dalam menghadapi permasalahan kesehatan mental ini. 


Adanya berita tersebut, dapat menginspirasi banyak kalangan terutama para aktivis muda yang mampu mengembangkan pola pikirnya menjadi perbuatan bermanfaat untuk menanggulangi dan memperluas pemahaman masyarakat banyak mengenai isu kesehatan mental. Apalagi sebagai mahasiswa, yang salah satu tujuannya adalah mengabdi kepada masyarakat, sudah sepatutnya memberikan penyuluhan atau program yang dapat dilakukan seperti sosialisasi mahasiswi KKN Undip tadi.


Saya, sebagai salah satu orang yang sangat peduli tentang kesehatan mental ini, turut bahagia dengan adanya penyuluhan program sosialisasi ini di masyarakat awam. Dengan begitu, para masyarakat yang menganggap hal ini tabu, perlahan akan mengubah mindset nya menjadi suatu hal yang penting dan tak dapat disepelekan. Terutama para orang tua yang kadang memiliki pemikiran yang kolot, dan menganggap isu ini terlalu “dilebih-lebihkan”.


Para mahasiswa yang mungkin relevan dengan bidang ini, sangat dapat mencontoh perilaku para penyuluh program KKN ini. Atau dengan membaca berita ini, diharap siapapun mampu melakukan kegiatan sosialisasi yang sama. Mungkin selain kegiatan ini, dapat juga memasang tulisan-tulisan di jalan, atau menulis di sosial media mengenai isu hangat kesehatan mental yang mampu menggugah para pembaca. 


Jika ditinjau dari sudut pandang saya sebagai mahasiswa yang menekuni bidang media, saya juga menemukan relevansi antara berita tersebut dengan program studi yang saya tekuni saat ini. Misalnya saja, saya dapat menulis artikel mengenai pentingnya kesehatan mental dengan tujuan informatif dan tentu saja persuasif. Atau saya dapat membuat suatu konten video yang dapat menggugah para penonton untuk membuka pintu hatinya agar peduli dan sadar terhadap kesehatan mental ini.


Jika mampu pula, saya dapat mendirikan sebuah brand media yang berisikan tentang pentingnya kesehatan mental dan bagaimana cara seseorang melepaskan stress agar kesehatan mentalnya terjaga dengan baik dan stabil. Selain itu, dapat juga membuat akun sosial media yang berisikan design grafis menarik dan informatif tentang peduli kesehatan mental bagi seluruh lapisan masyarakat. Banyak hal yang dapat dilakukan di era serba digital dan teknologi ini. Salah satunya pemanfaatan media. 


Kesimpulan tanggapan yang dapat saya ambil adalah, saya sangat mengapresiasi penuh terhadap penulis berita tersebut dan penyelenggara program KKN mahasiswi Undip yang telah mampu terjun ke dunia masyarakat awam. Diharapkan para pembaca, mampu mengikuti jejak yang dilakukan mahasiswi pada berita tersebut, atau turut peduli terhadap kesehatan mental masyarakat banyak. 


“Mental Health, the most important thing to survive in our lives!” - Me.


  • Pengalaman apa yang didapat setelah membaca berita :


Awalnya bingung mencari berita yang benar-benar saya minati dengan sumber yang harus aktual dan kredibel juga tentunya. Namun setelah saya ingat, saya menyukai suatu isu yang mampu saya komentari, saya langsung mencarinya pada kolom pencarian dengan sumber kompasiana.com, disana saya menemukan banyak sekali berita mengenai permasalahan tersebut. 


Setelah saya baca satu per satu, akhirnya saya menemukan satu judul dan isi berita menarik yang mampu saya pahami dalam-dalam. Juga berkaitan dengan diri saya sebagai mahasiswa. Meskipun banyak struggle dalam mencarinya, namun saya juga secara tidak langsung mendapatkan banyak informasi penting dan menarik. Misalnya saja, saya jadi tahu apa yang terjadi belakangan ini.


Selain itu, dengan membaca dan menanggapi berita ini, saya jadi mengasah pikiran saya agar mampu berpikir kritis, juga mampu menghadapi dan menanggapi suatu permasalahan, dengan menuangkannya pada tulisan seperti ini. Secara tidak langsung mengasah skill menulis dan perbendaharaan kata juga. Dan tentu saja, mendapatkan informasi, fakta, dan sudut pandang baru mengenai suatu hal.


  • Link Berita : 

https://www.kompasiana.com/nurulfauziyah3121/62f4b5d8a51c6f4ef2549be7/banyaknya-stigma-negatif-tentang-orang-dengan-gangguan-mental-mahasiswi-kkn-undip-berikan-penyuluhan-terkait-kesehatan-mental-kepada-warga-dusun-tawangrejo-simo 


Nama         : Nazwa Salsabila
NPM               : 210104220077
Kelas         : B
Nama Koran   : Tribun Jabar
Judul Berita    : “Adakah Dampak Penggunaan Handphone, Khususnya Pada Anak?”
Waktu Terbit   :  Selasa, 6 September 2022



  • Tanggapan terhadap isi berita : 


Di era serba digital ini, tak menutup kemungkinan bahwa handphone sebagai sosok utama dalam kehidupan seluruh umat manusia, kini sudah tak bisa dipisahkan lagi dengan keseharian masyarakat. Baik dari usia kanak-kanak, atau bahkan balita, sampai lansia pun turut menggunakan alat yang kerap kali disebut gawai ini. Penggunaan handphone kerap menuai pro dan kontra, apabila meninjau dari sudut pandang sebelah mata. Dan tentu saja, alat ini memiliki sisi positif dan negatifnya tersendiri.


Apabila ditinjau lebih jauh, alat komunikasi modern ini, memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bagaimana tidak? 90% kehidupan manusia sudah pasti bergantung dengan alat ini. Handphone sangat membantu kehidupan sehari-hari seseorang. Misalnya saja untuk belajar, bekerja, berbelanja, bepergian, berkomunikasi, hiburan, pusat mencari informasi penting, dan lain sebagainya. Selain itu pula, handphone dapat dibawa kemana-mana dengan mudah.


Namun, dari berita yang berjudul Adakah Dampak Penggunaan Handphone, Khususnya Pada Anak? yang telah saya baca, ternyata handphone memiliki dampak negatif yang sangat berpengaruh bagi pemakainya terutama anak-anak. Di berita ini, dampak negatif penggunaan handphone difokuskan pada kondisi kesehatan mata dan menurunnya tingkat konsentrasi anak.

 

Dilansir dari paragraf kedua berita tersebut, saat ini banyak anak yang sudah menggunakan kacamata, padahal secara usia, belum seharusnya kondisi tersebut dialami oleh mereka. dr Katharina Willyasti, Sp.M menuturkan bahwa dasarnya gadget memiliki dua fungsi, yakni sebagai alat komunikasi kemudian berkembang, sebagai sarana hiburan dan bagian kebutuhan penunjang kegiatan pembelajaran siswa saat ini, khususnya dalam pembelajaran daring. Selain itu, juga digunakan sebagai alat pengalih perhatian anak dari orangtuanya.


Hal tersebut, membuat anak-anak menganggap gadget sebagai temannya sehari-hari, sampai menimbulkan efek ketergantungan. Parahnya, akan sulit untuk dilepaskan, bahkan menimbulkan rewel atau tantrum kepada anak tersebut. Pada berita tersebut, dr Katharina Willyasti, Sp.M menjelaskan ketentuan penggunaan gadget pada setiap umur anak. Misalnya bagi anak 0-2 tahun tidak diperbolehkan sama sekali menggunakan gadget, usia 3-5 tahun dengan durasi satu jam perhari, usia 6-18 tahun dua jam perhari. 


Apalagi pada usia remaja yang masih dalam proses pertumbuhan. Tak menutup kemungkinan, mereka akan terjerumus ke hal yang tidak benar dari dampak negatif penggunaan gadget ini. Misalnya saja pornografi, kekerasan, penyebaran hoax, cyber bullying, dan sisi gelap internet yang lainnya. Maka dari itu, sudah sepatutnya para orang tua yang bertanggung jawab harus mengawasi penggunaan gadget anak-anaknya. Namun tentu saja dalam batas privasi yang wajar, jangan sampai mengulik ketidaknyamanan anak.


Bagi anak usia 0-2 tahun, penggunaan gadget dapat mempengaruhi kemampuan berbicara, padahal pada usia tersebut adalah fase bagi anak untuk berlatih berbicara dengan baik. “Jika anak usia 0-2 tahun terlalu lama di depan gadget, maka interaksinya dengan orang lain menjadi berkurang, karena terlalu fokus di depan gadgetnya. Jadi, penggunaan gadget juga menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kurangnya kemampuan berbicara pada anak,” ujar dr Katharina Willyasti, Sp.M.


Mengacu pada berita tersebut, yang menguraikan dengan jelas dampak negatif yang ditimbulkan oleh gadget, seharusnya membuat pembaca sadar dan mengurangi kebiasaan buruk tersebut. Sebab, sudah jelas-jelas dipaparkan dari anak usia balita sampai remaja sekalipun, akan menerima dampak negatif gadget apabila digunakan secara tidak wajar. Himbauan pada berita tersebut sudah cukup baik untuk mengingatkan para masyarakat. Tinggal kesadaran dari masing-masing individu yang harus lebih ditingkatkan lagi. 


  Tak hanya menguraikan dampak negatifnya saja, dr Katharina Willyasti, Sp.M menuturkan tips untuk mencegah kerusakan mata akibat penggunaan gadget yang berlebihan. Tuturnya, terdapat istilah rules of twenty, yaitu setiap 20 menit seseorang berada di depan atau menatap layar gadget, maka diharuskan untuk merelaksasi mata, dengan melihat sesuatu objek yang berada pada jarak jauh tertentu, sejauh 20 feet atau enam meter, selama 20-30 detik. Karena saat beraktivitas di depan gadget, mata kita sedang berakomodasi, yang akan berdampak pada kondisi mata lelah, yang berpotensi pada kerusakan organ mata lainnya. 


Tips yang dicantumkan pada berita tersebut sungguh mampu menginformasi para pembaca yang selama ini terlalu lama di depan gadget, misalnya seperti kebutuhan belajar daring, atau work from home. Disebutkan juga gejala mata lelah ini, seperti kaku, sakit kepala, pegal-pegal di sekitar alis, dahi, atau leher, mata cenderung berair, penglihatan menjadi berbayang atau buram. 


Pada berita tersebut, dr Katharina Willyasti, Sp.M menegaskan kembali kepada orang tua yang berperan penting dalam pengawasan anaknya, harus mampu membatasi penggunaan gadget. Semisal, tidak bermain gadget di depan anaknya, banyak melakukan interaksi dan bermain di luar ruangan, dengan tujuan mengalihkan perhatian anak-anaknya dari gadget. Ia pun menambahkan, agar saat bermain gadget, upayakan di ruangan terbuka, dan beririsan dengan aktivitas orang lain di lingkungan sekitarnya. Hal itu agar semua orang melakukan kontrol dan mengawasi terhadap apa yang dilakukan anak tersebut. 


Dampak negatif utama yang berita tersebut ingin sampaikan adalah perihal kesehatan mata. Anak yang sudah memiliki ketergantungan terhadap gadgetnya akan memiliki kecenderungan mengalami miopia atau rabun jauh. Terutama jika orangtuanya memiliki riwayat faktor genetik menggunakan kacamata minus. Karena kondisi tersebut, sebaiknya orangtua memeriksakan kondisi mata anaknya sejak usia dini. Kalau sudah diketahui terdapat gangguan mata pada anak, dan memerlukan bantuan kacamata, sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. Karena jika terlambat, akan menyebabkan anak terkena miopia bahkan berkembang pada gangguan kesehatan lainnya.


Pada akhir paragraf berita, mencantumkan info rumah sakit tempat dr Katharina Willyasti, Sp.M bekerja, di Rumah Sakit Sentosa Central Bandung, lengkap dengan jadwal layanan, sebagai salah satu penanganan kondisi gangguan penglihatan mata bagi masyarakat yang tinggal dekat dengan daerah tersebut. Selain mengedukasi dan memberikan himbauan pada masyarakat terutama bagi para orangtua, berita tersebut juga secara tidak langsung mampu mempromosikan rumah sakit tersebut sebagai salah satu unit layanan kesehatan yang dapat dikunjungi.


Kesimpulan tanggapan yang dapat saya berikan adalah, saya sangat merasa teredukasi dengan isi berita tersebut yang menuangkan informasi penting perihal kesehatan mata dan pengaruh dari gadget. Dimana, kedua hal tersebut sungguh relevan dengan kehidupan saya sebagai pengguna kacamata sekaligus pengguna gadget, sehingga dirasa saya harus mampu mencegah dan membatasi diri saya sendiri dalam menggunakan gadget untuk keseharian.


  • Pengalaman apa yang didapat setelah membaca berita :


Setelah sekian lama, mungkin bertahun-tahun tidak pernah membaca berita lewat media cetak atau sering disebut koran, akhirnya saya membacanya lagi. Awalnya saya bingung, dengan format penulisan koran yang kadang sambung menyambung dengan halaman di belakangnya. Namun setelah saya baca perlahan dengan teliti, akhirnya saya paham juga. Banyak hal menarik di sana yang dapat saya jumpai sepanjang saya membaca,


Dimulai dengan halaman pertama koran Tribun Jabar yang menyuguhkan berita harian pagi, membuat saya tahu bahwa ada kabar terkini yang terjadi di Bandung belakangan ini. Saya juga jadi tahu, bahwa di koran Tribun Jabar memiliki bagian-bagian tersendiri. Seperti misalnya harian pagi, berita internasional, tribun lines, tribun health, metro Bandung, sepak bola, Jabar region, tribun jual beli, berita tempat wisata, dan lain sebagainya. Yang dimana, setiap bagian tersebut menyajikan berita, artikel atau feature (berita khas) yang sesuai dengan konteks bagiannya.


Setelah membaca satu per satu judul dan sekilas isi beritanya, akhirnya saya tertarik pada satu judul berita yang mengusung bahasan dampak penggunaan handphone pada anak. Hal ini, saya rasa sangat berkaitan dengan diri saya sendiri. Sehingga, saya merasa mampu untuk menanggapi dan memahami betul-betul isi berita ini. Maka dengan ketertarikan saya terhadap persoalan tersebut, saya memilih untuk membaca dengan serius dan berusaha memahami setiap kalimat yang tertuang.


  • Foto Lengkap Berita : 




Komentar